Beberapa waktu yang lalu sepupu jauh ibuku, DR.Eka Budianta berkunjung ke rumahku. Sudah lama beliau tak bertemu dengan keluarga kami. Maklum beliau orang yang sangat sibuk. Beliau budayawan yang juga pecinta lingkungan. Di rumahnya di Beji Depok ada 1000 jenis pohon yang banyak memberi manfaat. Ketika beliau melihat sebuah pohon palem botol di sebelah rumah kami, beliau berkomentar: “Saya tak habis pikir mengapa ada orang yang suka menanam pohon itu? Tanpa bunga, tanpa buah dan tubuhnya pendek-tambun tak ada keindahan sedikitpun”. Ibuku menjawab berusaha membela tetangga. “Paling tidak kan dapat memberi oksigen mas?” Iya semua pohon memberi itu. Tapi kalau hanya itu? Pohon itu telah kikir dan tidak sepenuhnya memberi manfaat. Sebaiknya ditebang saja. Masih banyak pohon lain yang mampu memberi dengan nilai lebih. Manusia dengan kecerdasannya harus memahami betul itu. “Pembudidayaan, pemeliharaan dan pemanfaatan alam harus dipilah, dipilih dan ditentukan. Menurut saya pilihan palem botol sebagai pengisi ruang taman kehidupan, adalah sebuah pilihan yang salah. Mengapa bukan jeruk misalnya?. Daunnya untuk obat dan bumbu, harumnya semerbak, bunganya disukai kupu-kupu, buahnya apalagi?“. Iya betul juga ya mas.. sebagaimana akhir-akhir ini banyak orang juga jadi gila dengan tumbuhan yang harganya tak masuk akal. Sebutlah anthurium, yang daunnya oval memanjang. Tak ada nilai keindahannya tapi harganya melambung?”
Demikian juga manusia. Manusia diciptakan Tuhan sempurna dengan akal dan hati. Diposisikan dalam silang sengketa antara iblis yang memihak pada keburukan dan malaikat yang selalu tunduk dan berdikir pada Allah. Manusia disuruh memilih diantaranya. Manusia diciptakan berbangsa-bangsa agar hidup dan berjuang untuk dapat memberi manfaat sebanyak-banyaknya bagi alam dan sesamanya. Karenanya dalam Islam, perintah pertama kali dalam al-Qur’an adalah “Iqra” (Bacalah). Kata ini secara implisit bermakna “belajar” dan “mencari ilmu”. Karena hanya orang yang berilmu yang mampu memberi manfaat bagi kehidupan.
Rasulullah dalam hadis berkata: Al-Ilmu bilaa amalin kassyajari bila tsamarin..(Ilmu yang tidak bermanfaat sama dengan pohon yang tidak berbuah)..Maka artinya? Pohon yang tidak berbuah sebaiknya ditebang..kalau manusia..? Mari renungkan…..!!
Wah, ini anak…..
Sik cilik tapi sudah pinter berfilosofi, kalau budayawan sudah kayak Emha….Salut sekali, lebih diasah.
Apalagi kecerdasan spiritual nya sudah mulai keliatan….
He…he…salam buat bunda kamu….aku dulu juga se SMA sama bunda kamu di SMA Negeri 2 – Ngalam.
Sukses selalu, kamu salah satu bibit unggul bangsa ini, diasah terus…….
Salam,
Terima kasih sanjungannya om..eh om apa tante ya? Mamaku namanya Endah Tri Esthi Handaani SMA Negeri 2 Malang Lulus tahun 1987 lalu kuliah ke Universitas Brawijaya Jurusan Teknologi Hasil Ternak Fakultas Peternakan. Kalau om atau tate tahun berapa. Barangkali mamaku kenal..
Kami dulu tinggal di Mergosono gang V. Omku juga sekolah di SMA 2. Yangpertama Om Agus Purwatmadi Lulus Tahun 1980. Beliau lalu melanjutkan ke IKIP Malang Sekarang Guru di SMA Lumajang. Yang Kedua Om Bambang DwiAtmaji Lulus tahun 1984 Lalu melanjutkan kuliah di IPB Bogor. Sekarang di Malang dengan dua anak.
Salam ya om/tante…