Saat ini usiaku sudah masuk 14 tahun. Sudah sekitar 9 tahun aku menjalani hidup di sekolah. Sekolah sebuah kata kerja dan sekaligus kata benda. Di sekolah aku memperoleh pendidikan “formal” sebagai bagian dari tata administratif kehidupan. Karena hanya sekolah yang mampu memberi “cap” tingkatan kemampuan pengetahuanku. TK artinya aku di cap mampu bersosialisasi dan sedikit “membaca”. di SD aku di cap mampu “membaca, bermoral, berhitung dan sadar berkebangsaan” demikian juga kini ketika aku SMP aku menempuhnya untuk memperoleh “derajat pengetahuan menengah pertama” yang sebetulnya juga aku tidak tahu apa patokan pengetahunku untuk memperoleh “cap dengan ijazah SMP” yang aku cari dengan usaha yang tiada henti selama tiga tahun. Ku sering bertanya dalam hati. Apa beda cap SD dengan SMP? Pengetahuan apa yang berbeda dari SD dan SMP. Pengetahuan tingkat SMP pun masih sering rancu dengan pengetahuan yang ada di SD. Pengetahuan moral? apa beda yang aku dapat di SD dan SMP? Di SD aku diajari tentang akhlak, ibadat, muamalat. Di SMP juga diajari. Tidak ada pembaruan yang mencolok dari tingkatan jenjang yang aku lewati dari SD dan SMP. Kecuali aku mulai makin banyak tugas dan PR yang di kerjakan dengan komputerisasi. Substansinya sesungguhnya boleh dikata “sama”. Namun kalau aku tidak melalui sekolah dalam berbagai tingkatan itu aku akan kehilangan kesempatan untuk memposisikan hidupku dalam kondisi lapangan pekerjaan yang mensyaratkan “cap” itu. Aku tidak boleh SMP sebelum SD, tidak boleh SMA sebeleum SMP dan tidak boleh Perguruan Tinggi sebelum SMA. dan di PT aku harus memilih “lorong-lorong” rencana hidupku yang sesungguhnya belum paham benar kemana arahku. Ayahku arsitek. Kadang aku juga berpikir ingin jadi arsitek. Ibuku dahulu bermimpi jadi dokter namun ibuku terposisikan dalam lorong universitas sebagai ahli teknologi hasil ternak. Tapi sampai kinipun ibuku tidak pernah mengalami hidup yang bersentuhan dengan keahliannya. Ia kini jadi dosen di jurusan ekonomi dan teknik informatika. Karena sesudah S1 ibuku nyasar ke Magister Sistem Informasi. Dan karenanya ibuku mengiginkan aku jadi dokter. Itukah tangga kehidupan? Itukah proses pertumbuhan pengetahuan? Ah..betapa hidup telah dikotak-kotak dalam ruang-ruang yang kaku. Dan untuk memasuki kotak-kotak itu aku harus memaksa orangtuaku megeluarkan biaya yang tidak sedikit. Tidak bisakah pengetahuan itu dibiarkan dicari kemanapun kita mampu cari? Tak bisakah sekolah itu hadir dalam tubuh alamiahnya. Tidak bisakah kejadian demi kejadian melahirkan jawaban. Bukankah setiap hati, akal dan hasrat ada dalam takaran yang telah ditetapkan oleh sang penentu nasib? Kekhawatiran apakah yang melandasi perlunya di bangun sebuah institusi formal “pendidikan” dengan merek “sekolah”?. Kadang aku berpikir bahwa sekolah substansinya adalah sebuah”ajang pertikaian”, Bahwa “jenjang pencapaian” berupa “cap ijazah” adalah sebuah garis nasib yang dengan nyata menghalangi hak orang lain yang tak mampu memperoleh cap itu untuk duduk bersama dalam “posisi tertentu kehidupan”. Untuk sekadar jadi tukang parkir di sebuah mall, kawanku, harus punya ijazah SMA. Kalau hanya SMP ia cukup jadi pembersih WC. Kalau hanya ijazah SD apalagi tidak punya ijazah ia tidak akan pernah bisa jadi pegawai di tempat itu. Demikian juga aku sering baca di koran kalau mau jadi DPRD harus punya ijazah Sarajana minimal S1. Maka ramailah Institusi formal PT yang menyediakan diri penddikan singkat untuk dapat memperoleh ijazah S1. Institusi itu telah menjadi semacam “toko ijazah”. Ah…sekolah…sekolah… Setiap hari selalu memaksa aku untuk bangun pagi-pagi jam 05.30. WIB Kalau tidak aku tidak akan bisa mendapatkan cap itu.. Cap sekolah bagai sebuah mukjizat kehidupan…… ha…ha…ha…. Kulawan ngantuk..kulawan penat… hanya untuk masuk dalam formalitas kehidupan.. Dan aku tidak boleh dan tidak berani menolak dari bingkai hidup seperti itu.
Hai erfath…nice writing, boy…!
Sekarang ini, kalau tidak puas dengan sekolah, erfath bisa sekolah di rumah (homescholling). Syaratnya ortu erfath harus benar-benar mensupport keputusan tersebut. Setahu saya, peserta homescholling bisa mencari ijazah penyetaraan dari DIKNAS dan sudah diakui oleh negara. Saat ini sudah ada seorang penulis muda, Izza, yang sejak SMP memutuskan untuk sekolah di rumah karena tidak puas dengan materi yang didapat di sekolah dan ingin mewujudkan cita-citanya sebagai penulis. Sekarang di usianya yang belia, bukunya sudah diterbitkan. So…sekolah bukan satu-satunya jalan untuk meraih cita-cita…
Ditunggu cerita yang lainnya, boy..
Terima kasih atas komentarnya..
Maaf baru dibalas..
Ya betul ada sarana home schooling kalau mau tidak masuk dalam kotak “formal”. Keliahatannya lingkungan saya belum mampu mengelak dari “common sense” mbak.. Tapi tidak apa lah toh di sekolah belajar hanya 6 jam.. efektif 6 hari maka dalam 1 minggu 36 jam dan dalam setahun setara dengan (72 hari) di rumah 10 jam kalau tidur dan istirahat 8 jam. ditambah hari minggu 16 jam. jadi dalam seminggu 76 jam dan dalam setahun setara dengan (152 hari). berarti perbandingan menuntut ilmu di sekolah dan di luar sekolah (1 : 2) Masih banyak di rumah.. kalau di tambah liburan.. makin banyak lagi.. Cuma masalahnya memang sekolah dengan “cap ijazahnya” telah menjadikan institusi ini sebagai pagar pemisah “derajat kehidupan”. Contohnya melalui UU Pemilu yang baru mensyaratkan ijazah S1 bagi calon Presiden 2009. Ini berarti Bu Mega telah dianggap tidak layak lagi untuk menjadi Presiden…… Dan dengan ini logika kita mengatakan bahwa selama periode 2000-2004 kita telah dipimpin oleh seorang presiden yang sesungguhnya TIDAK LAYAK…. he…he… kasihan kita ya mbak..?
[...] juga jalan jalan ke blog erfath garaudy, sama kek vandy, dia juga SMP, tapi baca postingannya tentang sekolah, seakan akan aku gak percaya bahwa yang nulis anak SMP, aku aja gak bisa buat post segitu dalemnya [...]
Hi Erfath, tulisan kamu bagus sekali..
Saya rasa banyak orang yang berpikir seperti kamu. Di negara kita, ijazah memang sangat penting terutama untuk mendapat kesempatan kerja. Menyedihkan memang, betapa banyak sekali orang di Indonesia mempunyai otak yang cerdas, cakrawala yang luas tapi tidak mendapatkan “kesempatan” hanya karena tidak memiliki ijazah yang “sesuai”. Banyak juga orang yang memiliki ijazah, namun sebenarnya tidak mempunyai kemampuan apa-apa. Tapi Erfath, ilmu bisa kita dapatkan dimana-mana….tidak mesti dari “institusi formal” selama kita membuka mata, hati dan pikiran. Karena manusia pada dasarnya adalah longlife learner, selalu belajar sampai akhir hayat kita.
Cheers
Terima kasih atas komentarnya.. Ya saya juga sangat setuju kalau pada dasarnya manusia memang harus belajar sepanjang hayat…
Kalau di Islam: Utlubul ilmi minal mahdi ilal lahdi (Tuntutlah ilmu dari buaian sampai ke liang lahat) yang kemudian juga diadopsi dalam empat pilar Pendidikan veri UNESCO seperti yang mbak katakan: learn to longlive together.. Berkait ini saya juga tulis…Al-Ilmu bilaa amalin kassyajari bilaa tsamarin (Ilmu yang tidak bermanfaat bagai pohon yang tak berbuah)
Trims